Kamis, 05 Juli 2012

0 Pengantar Studi Islam


يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلوةَ وَأْمُرْ بِالمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ المُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُوْرِ.
( لقمان 17)  
Terjemahannya:
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Tafsirannya:
يابني أقم الصلوة وأمر
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan makhlukNya untuk senantiasa mengerjakan shalat. Kata ‘shalat’ dalam ayat ini diawalkan karena shalat merupakan ibadah yang paling utama segaligus ibadah yang pertama kali dihisab dan dipertanggungjawabkan di hari kelak.
وأمر بالمعروف وانه عن المنكر
Setelah shalat, Allah swt. memerintahkan kepada makhlukNya untuk senantiasa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran.
على ما أصابك
Setiap perbuatan manusia pasti terdapat resiko, baik itu berupa kebaikan ataupun kemunkaran. Oleh karena itu Allah memerintahkan makhlukNya untuk senantiasa selalu bersabar, karena dengan bersabarlah Allah swt. akan menilai sampai dimana tingkat ketaatan kita.
إن ذلك من عزم الأمور
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Maksud dari ayat diatas merupakan bahwa kewajiban kita untuk bisa sempurna di sisiNya adalah dengan mendirikan shalat, mengerjakan yang baik dan meninggalkan kemunkaran, bersabar atas apa yang menimpa kita.
Semua itu sudah cukup bagi kita untuk bisa menjadi insan yang mulia di sisi Allah. Sebab apa?
Karena:
1.      Shalat
Shalat yang dimaksudkan disini bukan hanya sekedar shalat yang sifatnya bermain-main semata, akan tetapi melaksanakannya denga penuh khusyu’ dan benar. Karena hanya dengan shalat yang khusyu’ dan benarlah yang mampu membuka pintu surga, karena dalam shalat terdapat bacaan yang bermacam-macam kandungan isinya. Ada doa, janji, kesaksian dan lain sebagainya. Maka dengan demikian, di dalam Ayat ini yang pertama disebut sebagai kewajiban yaitu shalat.
2.      Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Setelah kita berinteraksi dengan Allah melalui shalat, kita juga diwajibkan untuk berinteraksi dengan makhluk yang lain, yaitu dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang tentunya dalam hal ini sangatlah diwajibkan bagi kita semua.
3.      Sabar
Dalam berinteraksi dengan Allah dan makhluk-makhlukNya, tentunya terdapat manfaat, akibat dan resiko. Deangan kata lain kita harus selalu bersabar dengan apa yang menimpa kita. Karena dengan cobaan inilah allah menguji kesabaran kita , dan Allah menguji kita karena Allah sayang pada kita. Jadi semakin berat cobaan yang  menimpa kita, maka besar kasih sayang allah kepada kita.
Dengan beberapa hal yang tertera diatas Allah swt. telah menunjukkan hal-hal yang harus kita lakukan untuk menjadi insan yang mulia di hadapanNya.

0 Kajian Morfologi Kitab Bulughul Maram


MORFOLOGI DALAM KITAB BULUGHUL MARAM
(Bab Jihad, Dzikir+Doa dan Wudhu)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Dirasah Al-Hadis Al-Lughowiyah

Dosen pengampu: Drs. H. Mohammad Habib,M.Ag.




Disusun Oleh:
Muhammad Ma’sum            (08110005)





JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2009/2010
DAFTAR ISI

BAB I     PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang  ...........................................................................        3
2.      Identifikasi Masalah ...................................................................        3
3.      Pembatasan dan Perumusan Masalah .........................................        3
4.      Metodologi .................................................................................        4
BAB II    TEORI MAKNA MORFOLOGI
1.      Pembahasan ................................................................................        5
BAB III   KESIMPULAN ..............................................................................        8


BAB I
PENDAHULUAN

1.   Latar Belakang
Dalam penggunaan kalimah-kalimah arab tidak sedikit kita jumpai perbedaan stuktur bahasa yang berbeda. Jika dibandingkan dengan struktur bahasa arab pada umumnya. Ia tak selalu terikat oleh kaidah-kaidah gramatika seperti yang selalu dipegang oleh para pemuja gramatika atau kaum struktualis.
Biasanya kalimah atau kalam dibuat sesuai dengan konvensional (waktu yang terjadi), namun terkadang banyak juga kita jumpai contoh-contoh kalimah atau kalam yang tidak sesuai dengan waktu terjadi peristiwa tersebut.

Pada makalah ini penulis akan membahas dan menganalisis bentuk fi’il madhi yang difungsikan untuk waktu yang akan datang. Yang secara konvensional fi’il madhi menunjukkan waktu yang akan/sedang terjadi. Namun apabila bentuk fi’il madhi digunakan untuk menunjukkan waktu yang akan datang maka struktur bentuk itu tidak konvensional.
       
2.   Identifikasi Masalah
a.   Banyak kita jumpai penggunaan struktur bahasa yang tidak sesuai dengan keadaan aslinya atau waktu terjadinya peristiwa dalam suatu hadis.
b.   Penggunaan bentuk fi’il madhi dalam kalimah, namun maknanya berfungsi untuk menunjukkan waktu yang akan datang (teori makna morfologi)


3.   Pembatasan dan Rumusan Masalah
Dalam pembahasan makna morfologi ini, penulis membatasi kajian dengan menganalisis kitab hadis “BULUGHUL MAROM” dalam bab Jihad,Dzikir+Doa dan Wudhu. Adapun permasalahan yang penulis kaji dan analisis adalah sebagai berikut :
-  Apa saja contoh hadist dalam kitab Bulughul Marom ( dalam bab Jihad,Dzikir+Doa dan Wudhu) yang didalamnya terdapat penggunaan bentuk fi’il madhi yang menunjukkan waktu yang akan datang?

4.   Metodologi
Dalam kaidah tata bahasa arab terdapat penggunaan fi’il (kata kerja) yang dikondisikan dengan waktu terjadinya. Seperti kita ketahui fi’il madhi difungsikan untuk menunjukkan waktu yang telah terjadi (madhi), namun terkadang fi’il madhi digunakan untuk waktu yang akan datang (istiqbal) , yaitu apabila :
  • بمعنى الإنشاء الطلبى، نحو: رحمك الله، رضى الله عنهم ورضوا عنه
Jika suatu kalimah bermakna Insya Tholabi (yaitu suatu pengharapan) .   .
  • إذا كانت منفية ب"لا" و"ان" نحو: والله، لا شريت، والله، إن عصيت 
Jika suatu kalimah di dahului dengan alat-alat an-nafiah
  • بدخول "ان" الشريطة ومع أغلب الأدوات التى تتضمن معناه نحو: ولئن أتيت بكل أية ماتبعوا قبلتك الكتاب الذين أوتوا
Jika ada fi'il madhi yang didahului oleh huruf-huruf syartiyah.
  • مع "ما" النائبة عن الظرف نحو: أعط مادمت غنيا
Jika ada fi’il madhi yang didahului oleh ma annahiah
·         إخبار عن الأمور اذا وقعت فى سباق المستقبلة مع قصد القطع بوقوعها
Jika ada fi’il madhi yang mengandung sebuah hukium syarii atau peristiwa yang pasti akan terjadi.

BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pembahasan Fi’il madhi yang menukjukkan waktu yang akan datang

1. إذا كانت منفية ب"لا" و"ان" نحو: والله، لا شريت، والله، إن عصيت
·       وعن معن بن يزيد قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا نفل إلا بعد الخمس (رواه احمد وأبو داود، وصخحه الطحاوى) 
·       وعن عمر انه سمع النبى صلى الله عليه وسلم يقول لأخرجنّ اليهود والنصارى من جزيرة العرب، حنى لا أدع إلا مسلما (رواه مسلم)
  • Dalam hadist ini, lafadz berbentuk madhi (fi’il madhi) seperti لا نفل dan لا أدع berfungsi menunjukkan waktu yang akan datang karena fi’il madhi diatas sebelumnya telah didahului dengan huruf Nafi yang berupa" "لا    yang disebut "لا نفى"   .  Dengan demikian fi’il madhi yang asal mulanya menunjukkan waktu yang telah terjadi berganti dan berubah fungsi menunjukan waktu yang akan datang.



2.  بدخول "ان" الشريطة ومع أغلب الأدوات التى تتضمن معناه نحو: ولئن أتيت بكل أية ماتبعوا قبلتك الكتاب الذين أوتوا
·       عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من مات ولم يغز ولم يحدّث نفسه به مات على شعبة من نفاق" رواه مسلم.
·       ولاحمد وأبى داود من حديث أبى سعيد نحوه, وزاد "ارجع فاستأذنهما, فأن أذنا لك, وإلاّ فبرّهما.
·       وعن جبير بن مطعم رضى الله عنه أن النبي صل الله عليه وسلم قال فى اسارى بدر "لوكان المطعم بن عدى حيا ثم كلمنى فى هؤلاء النقتى  لتركتهم له (رواه البخارى)
·       عن كعب بن مالك رضى الله عنه أن النبي صل الله عليه وسلم كان أذا أراد غزوة ورّى بعيرها. متفق عليه.
  • Dalam hadist diatas, fi’il madhi mempunyai fungsi makna untuk waktu yang akan datang , walaupun aslinya digunakan untuk waktu yang telah terjadi. Hal ini terjadi karena fi’il madhi tersebut bertemu dengan adat-adat atau alat-alat syartiyyah, misalnya,من,إذا,إن  , لو dan lain-lain.

3. بمعنى الانشاء الطلبى نحو: رحمك الله و رضي الله وغير ذالك.
·       عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم    " يقول الله تعالى : أنا مع عبدى ما ذكرنى وتحرّكت بى شفتاه" أخرجه ابن ماجه, وصححه ابن حبان,وذكره البخاريّ تعليقا.
Dalam hadist  ketiga ini, terdapat lafadh berbentuk fi’il madhi yang mengalami pergantian fungsi makna dan masa yang akan terjadi {زمن الاستقبال} . Pergantian makna ini karena lafadz yang berbentuk madhi bersamaan dengan "ما"  yang menggantikan Dhorof (makna waktu/tempat) yang terdapat pada kata ما ذكرنى  .

4 . اذا وقعت فى سياق إخبار عن الامور المستقبلة مع قصد القطع بوقوعها.
عن عمر رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم   " مامنكم من أحدكم يتوضّأ , فيسبع الوضوء, ثمّ يقول : اشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له , واشهد أن محمّدا عبده ورسوله, الا فتحت له أبواب الجنّة الثمانيّة, يدخل من ايّها شاء" اخرجه مسلم.
Dalam hadist terakhir ini terdapat lafadz madhi فتحت yang bukan difungsikan untuk menunjukkan masa/waktu/zaman yang sudah terjadi, melainkan difungsikan untuk masa/waktu yang akan datang. Hal ini terjadi karena fi’il madhi tersebut merupakan suatu khabar atau berita yang pasti akan terjadi pada zaman yang akan datang.
 
    

BAB III
KESIMPULAN

Dari masalah yang kami buat mengenai pembahasan teori morfologi maka kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
Fi’il madhi dapat digunakan untuk menunjukkan suatu peristiwa yang akan terjadi dalam kitab “Bulughul Marom” dalam bab Jihad,Dzikir+Doa dan Wudhu sebagai berikut:

·         Kalimah terdapat alat-alat nafiah  terdapat hadist pada urutan nomor 1316 dan 1326 dengan lafadz yang berbunyi لا نفل  dan لا أدع
·         Kalimah terdapat alat-alat syartiyah terdapat hadist pada urutan nomor 1283, 1287,1311 dan 1214 dengan lafadz yang berbunyi من مات, أن أذنا  ,  لوكان , danأذا أراد
·         Kalimah menunjukkan suatu peristiwa yang pasti terjadi terdapat hadist pada urutan nomor 26 dengan lafadz yang berbunyi فتحت
·         Kalimah terdapat huruf “ما” yang menjadi pengganti dhorof terdapat hadist pada urutan nomor 1566 dengan lafadz yang berbunyi  ما ذكرنى


0 Teori dan Aplikasi Sastra

v  Pengertian Psikologi Sastra
Istilah  “ psikologi sastra” mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga adalah studi tokoh dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Dan yang paling berkaitan dengan bidang sastra adalah pengertian yang ke tiga.[1]
Dan masih banyak definisi lain, seperti:
§  Hilgard: “ Psycholgy may be defined as the science that studies the behavior of man”( Prihastuti, 2002:18). Definisi tersebut menunjuk pendiriannya tentang psikologi yang jelas-jelas mempelajari perilaku manusia.
§  Bourne Jr. : “ Psychology is the sciencitific studi of behavior principles” (1973:11). Rumusan tersebut merumuskan bahwa psikologi merupakan studi ilmiah tentang dasar-dasar atau pokok-pokok perilaku.
§  Davis dan Paladino: “ Psychologi is the scientific studi of behavior and mental processes” (Prihastuti, 2002:19).
Psikologi yang berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti science atau ilmu mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai obyek studi, terutama dari segi perilaku (behavior atau action) dan jiwa ( psyche). Bersandar pada pengertian singkat di atas, kita dapat memahami formulasi-formulasi definisi seperti yang telah kita pelajari diatas, yang secara singkat dikategorikan menjadi (1) the scincitific study of the behavior of human being ( ilmu atau kajian ilmiah tentang jiwa manusia) dan (2) the sciencitific of study of the human psyche ( ilmu atau kajian ilmiah tentang jiwa manusia ). Sebagai ilmu yang mengfokuskan studi pada perilaku manusia, psikologi dikategorikan sebagai behavioral science atau ilmu perilaku ( Bonner, 1953:3).[2]
v  Bentuk
Perilaku manusia sangat beragam, tetapi memiliki pola atau kerulangan jika diamati secara cermat. Pola atau keterulangan inilah yag ditangkap sebagai fenomena dan seterusnya diklasifikasikan ke dalam kategori tertentu. Sebagai missal, perilaku yang berhubungan dengan fenomena frustasi atau kecemasan  ( anxiety). Pemahaman fenomena kejiwaan itu dapat dilakukan lewat perilaku seperti apa yang diucapkan dan diperbuat oleh si penanggung frustasi dan anxiety. Ucapan dan perbuatan tadi menjadi bahan aggression, projection atau kategori lain. Demikian pula perilaku seseorang yang menanggung gejala jiwa tak normal ( abnormal) dapat dipilah-pilah kedalam kategori hysteria, fobia, depresi dan lain-lain dengan mempelajari perilaku yang tampak itulah psikologi dapat memahami jiwa atau pikiran metal seseorang. Pendek kata, perilaku sesungguhnya mencerminkan kejiwaan atau mental seseorang.
Secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sebagaiman sudah kita pahami sastra berhubungan dengan dunia fiksi, puisi, esai yang diklasifikasikan ke dalam seni ( art). Sedang psikologi merujuk pada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memilki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkatdari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya.
Novel atau cerpen sebagai bentuk kajian sastra, mmerupakan jagad rewalita yang didalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia ( tokoh). Realita social, realita psikologis, realita religious merupakan tema-tema yang sering kita dengar ketika seseorang menyoal novel sebagai realita kehidupan. Secara spesifik realita psikologis sebagai missal, adalah kehadiran fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama ketika merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkungan.[3]
v  Fungsi
Memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam karya sastra melalui pemahaman terhadap para tokoh, misalnya: masyarakat memahami perubahan kontradiksi dan penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi dalam masyarakat itu. Khususnya terkait dengan psyche.
v  Aplikasi
Ada tiga cara yang dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dan sastra, yaitu:
§  Memahami unsure kejiwaan pengarang sebagai penulis.
§  Memahami unsure kejiwaanpara tokoh fiksional dalam karya sastra.
§  Memahami unsure kejiwaan pembaca.

v  Teori

§  Teori kognitif; Sekilas, tetapi cukup kita peroleh pengertian tentang kemelut batin yang dialami tokoh.
§  Teori Psikoanalisis; Sigmund Frued mengatakan, watak manusia terdiri dari 3 lapis, yaitu: id, ego, dan super ego.
§  Teori Psikologi Humanistik: teori yang dibangun oleh Abraham Maslow.


[1] Rene Wellek & Austin Were. Teori Kesustraan ( Jakarta: PT. gramedia, 1990 ), hal. 90
[2] Siswantoro. Metode Penelitian Saatra: Analisis Psikologi ( Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2005), hal. 26-27
[3] Ibid

0 Kritik Sastra

PENDAHULUAN

            Sebelum kita mempelajari lebih lanjut mengenai analisis dalam kritik sastra, terlebih dahulu kita mengingat pelajaran yang telah di sampaikan pada pertemuan yang telah lewat yaitu  pengertian dari kritik sastra itu sendiri. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa:
            Istilah ”kritik” (sastra) berasal dari bahasa Yunani yaitu krites yang berarti ”hakim”. Krites sendiri berasal dari krinein ”menghakimi”; kriterion yang berarti ”dasar penghakiman” dan kritikos berarti ”hakim kasustraan”.
            Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni.
      Abrams dalam Pengkajian sastra (2005: 57) mendeskripsikan bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, dan penilaian karya sastra.
            Pengertian kritik sastra di atas tidaklah mutlak ketetapannya, karena sampai saat ini, belum ada kesepakatan secara universal tentang pengertian sastra. Namun, pada dasarnya kritik sastra merupakan kegiatan atau perbuatan mencari serta menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran sistematik yang dinyatakan kritikus dalam bentuk tertulis.
      Membaca secara mendalam keberagaman pengertian sastra yang tersuguh dari beberapa sumber yang diberikan sebagai tugas pemenuhan mata kuliah Naqd Adabi, terdapat sebuah gambaran dalam benak penulis, muncul sebuah matrikulasi wilayah sastra, yang sangat mudah untuk dihafalkan, dipahami dan dimengerti, sebagaimana  berikut:
Ilmu Sastra

Teori Sastra               Sejarah Sastra                       Kritik sasra

1.      Teori sastra merupakan bidang studi sastra yang membicarakan:
a.       pengertian-pengertian dasar tentang sastra,
b.      hakekat sastra,
c.       prinsip-prinsip sastra,
d.      latar belakang, jenis-jenis sastra, dan
e.       susunan dalam karya sastra dan prinsip-prinsip tentang penilaian sastra.
2.      Sejarah Sastra merupakan bidang studi sastra yang membicarakan;
a.       membicarakan tentang perkembangan sastra,
b.      ciri-ciri dari masing-masing tahap perkembangan karya sastra tersbut,
c.       situasi sosial masyarakat dan idologi yang semuanya,
3.      Kritik sastra yang dalam eksistnsinya sendiri turut serta membicarakan;
a.       analisis,
b.      interpretasi atau penafsiran, dan
c.       menilai karya sastra.
­            Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling mengait. Sebagaimana teori sastra yang sudah pasti membutuhkan kerja sama dengan sejarah sastra. Sejarah satra yang tidak bisa dipisahkan dari teori dan kritik sastra, begitu juga dengan kritik sastra yang membutuhkan adanya teori dan sejaarah sastra.
PEMBAHASAN

ANALISIS DALAM KRITIK SASTRA
Dari pengertian kritik sastra di atas, terkandung secara jelas aktivitas kritik sastra secara rinci. Aktivitas kritik sastra tersebut mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:
1.      Menganalisis
Analisis adalah menguraikan unsur-unsur yang membangun karya sastra dan menarik hubungan antar unsur-unsur tersebut.
Analisis merupakan hal yang sangat penting dalam kritik sastra. Sebagaimana Jassin dalam Pengkajian Sastra menjelaskan bahwa kritik sastra ialah baik buruknya suatu hasil kasustraan dengan memberi alasan-alasan mengenai isi dan bentuknya. Oleh karena itu, dalam mengkritik karya sastra, seorang kitikus tidaklah bertindak semaunya. Ia harus melalui proses penghayatan keindahan sebagaimana pengarang dalam melahirkan karya sastra.
Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengkritik harus didasarkan pada referensi-referensi dan teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra baru yang seperti inilah yang justru akan mengembangkan ilmu sastra itu sendiri, dimana seorang pengarang akan dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga akan berdampak pada meningkatnya  kualitas karya sastra.
2.     Menafsirkan
Sementara menafsirkan (interpretasi) dapat diartikan sebagai memperjelas/memperjernih maksud karya sastra, dengan cara:
 (a) memusatkan interpretasi kepada ambiguitas, kias, atau kegelapan dalam karya sastra,
(b). memperjelas makna karya sastra dengan jalan menjelaskan unsur-unsur dan jenis karya sastra.
 Seorang kritikus yang baik tidak lantas terpukau terhadap apa yang sedang dinikati atau dihayatinya, tetapi dengan kemampuan rasionalnya seorang kritikus harus mampu membuat penafsiran-penfsiran sehingga karya sastra itu datang secara utuh.

3.     Menilai.
Adapun aktivitas yang ketiga yaitu penilaian. Penilaian dapat diartikan menunjukkan nilai karya sastra dengan bertitik tolak dari analisis dan penafsiran yang telah dilakukan. Dalam hal ini, penilaian seorang kritikus sangat bergantung pada aliran-aliran, jenis-jenis, dan dasar-dasar kritik sastra yang dianut/dipakai/dipahami seorang kritikus.






KESIMPULAN

Jadi sangat jelas sekali bahwa langkah awal untuk memulai sebuah aktivitas yang disebut aktifitas kritik sastra yaitu dengan terlebih dahulu kita mulai dari tahap analisis/ menganalisis sebuah karya sastra atau teks sastra tersebut. Baru kemudian melangkah kejenjang berikutnya, yaitu menafsirkan dan tahap terakhir  melakukan penilaian terhadap karya sastra itu sendiri.
Seperti yang di lakukan para kritikus, sebenarnya kitapun sering melakukan sebuah kegiatan analisis. Namun analisis yang kita lakukan sering kali hanya sebuah syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah dan hanya sampai pada tahap itu saja. Dan kita tidak melanjutkan ke tahap-tahap berikutnya seperti yang di sebutkan diatas. Maka, kita belum bisa dianggap sebagai seorang kritikus. Karena kitapun tidak menghasilkan teori kritik  baru.

                       
 

Pustaka Bahasa dan Sastra Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates